Masjid Besar Singaparna: Sejarah, Letak Geografis, Gaya Arsitektur Dan Makna Filosofis


Masjid Besar Singaparna atau Kaum Singaparna yang berdiri di atas tanah 6510 m2 didirikan oleh Pangeran Singaparna II sekitar tahun 1770 pada masa Bupati Kabupaten Sukapura Raden Djayamanggala bergelar Raden Tumenggung Wiradadaha VII atau yang lebih dikenal dengan sebutan Dalem Pasir Tando Sukaraja (1765 - 1807).

Pada waktu itu nama tempatnya disebut Gunung Soliun: Sebelah barat  Ciputri, Cikupang dan Cimerah, sebelah utara Kebon Salak dan Loji, sebelah timur Tanjakan Cikiray dan Pasar Baru, sebelah selatan Sukahaji dan Panayagan.

Letak Geografis Masjid

Secara administrasi Masjid Besar Singaparna termasuk wilayah Kabupaten  Tasikmalaya, terletak di bawah kaki Gunung Galunggung. Dari Gunung Galunggung ke arah selatan menuju Singaparna sekitar 12 km.

Meskipun berada di bawah kaki Gunung Galunggung yang bersemak-semak, masjid ini sangatlah strategis keberadaannya, karena menjadi sentral atau puseur dayeuh Kabupaten Tasikmalaya, berada ditengah-tengah jantung Kota terhubung ke semua arah berbagai Kecamatan yang ada di wilayaah Kabupaten Tasikmalaya.

Tepatnya berlokasi di Kaum Rukun Warga 17 Desa Singaparna Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya. Depan alun-alun Singaparna, dekat Terminal Singaparna, dekat Kantor Kawedanan Singaparna, Dekat  Kantor Telekomunikasi Singaparna, dekat Kantor Komando Rayon Militer Kecamatan Singaparna, dekat Kantor Kecamatan Singaparna, dekat Kantor Desa Singaparna, dekat Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Singaparna, dekat pertokoan dan dekat Pasar Tradisional Kecamatan Singaparna.

Disamping itu, masjid ini dilewati oleh jalan protokol, jalan tembus Garut -Bandung -Jakata. Jalur tembus lintas utara -Tasikmalaya -Ciamis -Majalengka -Kuningan -Cirebon, Jawa Tengah Jawa Timur. Jalur tembus lintas selatan -Tasikmalaya -Ciamis -Cilacap -Jawa Tengah -Jawa Timur. Dan sebagai perekat antara Kota dan Kabupaten, yakni: Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut. 

Karenanya, masjid ini ramai dikunjungi para jemaah dalam melaksanakan shalat lima waktu, shalat Jumat, shalat Tarawih, shalat sunat Iedul Fitri dan shalat sunat Iedul Adha, baik oleh penduduk setempat maupun para tamu yang datang ke Singaparna.

Para tamu yang datang ke Singaparna, datang dari berbagai daerah Kota dan Kabupaten di pulau Jawa, bahkan ada yang datang dari Sumatera, Kalimantan dan sebagainya.

Kebanyakan mereka yang datang ke masjid Singaparna, adalah untuk mengantar atau menengok anak-anaknya yang sedang belajar mencari ilmu di berbagai Pondok Pesantren. Inilah yang menjadi sebab Tasikmalaya disebut Kota santri. Sebab di seluruh wilayah Tasikmalaya tersebar banyak Pondok Pesantren terutama yang ada di Singaparna.

Apabila kita bermaksud ingin berkunjung ke Masjid Besar Singaparna sangatlah mudah dan lancar, dapat ditempuh melalui kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Apabila kita mau naik kendaraan pribadi, dari Jakarta menuju Bandung, dari Badung ke Garut, dari Garut ke Singaparna 41 km. Dan apabila kita dari Cirebon, Jawa Tengah, Jawa Timur bisa langsung menuju Kota Tasikmalaya, dari Kota Tasikmalaya menuju Singaparna 16 km.

Sedangkan apabila kita mau naik kendaraan umum dari DEJABOTABEK: Depok, Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi. Karawang, Purwakarta, Bandung dan Garut. Bisa naik Bus Jurusan  Singaparna langsung. Maka bus akan berhenti di depan masjid. Begitu pula dari Cirebon, Jawa Tengah dan Jawa Timur bisa naik Jurusan Tasikmalaya, dari Kota Tasikmalaya naik angkot atau masyarakat Singaparna menyebutnya Gelebeg jurusan Tasikmalaya -Singaparna -Mangunreja. Maka kita akan melewati masjid ini dan kita bisa turun persis di depan Masjid Besar Singaparna.

Gaya Arsitektur Masjid

Pada awalnya bangunan masjid ini berbentuk panggung tradisional, seperti rumah-rumah adat penduduk pada umumnya, dengan desain arsitektur yang sangat sederhana. Namun meskipun demikian, bangunan ini syarat akan makna, melambangkan warisan khas budaya sunda berbentuk menyesuaikan dengan konteks lingkungan masyarakat disekitarnya.

Sebagaimana masjid-masjid pada zaman dahulu. Masjid Singaparna dibangun memakai material atau bahan bangunan; batu, kayu, bambu dan injuk. Bagian bawah kaki-kakinya memakai tatapakan; terbuat dari batu persegi atau balok, istilah sunda menyebutnya batu tatapakan, dengan ketinggian 50 cm sampai 100 cm. Fungsi batu adalah sebagai penanggulangan bencana gempa, bencana banjir dan sebagai pondasi utama untuk menahan beban berbagai kerangka dan stuktur bangunan.

Batu pondasi yang berjajar dengan ukuran tertentu, ditumpangi dan dihampari balok kayu dengan ketebalan 10 cm x 10 cm, begitu pula dengan struktur tihang dan kerangka atap bangunan memakai balek kayu yang sama.

Dalam melengkapi hamparan bangunan, dipasang kayu papan; kayu ukuran 3 cm x 20 cm atau talupuh  yaitu; hamparan yang dibuat dari bambu. Untuk memperlengkap tihang samping dipasanglah kayu panel ukuran 6 cm  x 10 cm, sedangkan pada bagian dinding dipasang papan atau bilik; anyaman yang terbuat dari bambu, diperkuat dan dirapihkan pinggirnya dengan cemped; kayu tipis ukuran 2 cm x 6 cm. Dan Atapnya berbentuk tumpang atau susuhunan, semakin ke atas atapnya semakin kecil terbuat dari injuk ditata dan disusun rapih.

Tangga kecil disebut golodog, babancik atau papangge, dipasang dan diletakan didepan bangunan dengan anak tangga 3 buah, tangga yang digunakan berfungsi untuk jalan keluar masuk bangunan masjid panggung.

Selama satu abad lebih masjid ini berdiri, selama itu pula berjemur dengan teriknya panas matahari dan guyuran hujan, perapuhan pun terjadi akibat teriknya panas matahari dan guyuran hujan yang bertahun-tahun,  masjid yang dulu kuat dan kokoh, kemudian lapuk oleh proses alam, pengelupasan pun terjadi disana-sini; atap banyak yang rapuh dan kayu-kayupun banyak yang patah. Tentunya mengalami beberapa kali perbaikan. Sehubungan dengan kondisi masjid tersebut. Maka masjid ini dipugar, kemudian dibangun kembali dan diperluas.

Dalam penelururan penulis: Masjid Besar Singaparna mengalami dua kali pemugaran. Pemugaran pertama dilaksanakan pada sekitar tahun 1910 atas perintah Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Mekkah (1882 - 1919).  Poses Pembangunan masjid dipimpin oleh Penghulu Kamudin yang menerima perintah langsung dari Bupati Sumedang. Dan Penghulu Kamudin merupakan keturunan Sumedang. Setelah selesai dibangun dengan masyarakat disekitarnya, kemudian diserahkan kepada Bupati Tasikmalaya Raden Tumenggung Wiratanuningrat (1908 - 1937).

Sebelum tahun 1978 Masjid Singaparna bangunannya dua lantai, tempat shalatnya beralas tikar mendong dan lampit, pada bangunan lantai duanya terbuat dari kayu, sehingga terlihat dan nampak depannya 3 menara beratapkan genting, 1 menara besar diposisi tengah 2 menara kecil disamping kanan dan kiri, seperti layaknya masjid dahulu atau masjid kuno yang bernuansa seperti Masjid Demak Jawa Tengah atau Masjid zaman dahulu pada umumnya.

Di era tahun 1960 sampai tahun 1977 pada lantai duanya atau diatasnya sering dipakai nongkrong anak-anak laki-laki sebelum adzan tiba, untuk shalat berjamaah atau dipakai ngabuburit ketika bulan Ramadhan tiba,  dibagian bawah samping kanan dan kiri masjid terletak 2 kolam, yang pada waktu itu disebut kulah, artinya; kolam tempat berwudhu para jamaah yang akan melaksanakan shalat, dan dikala itu sering juga dipakai untuk mandi dan berendam anak laki-laki yang akan disunat.

Masjid Besar Singaparna pada tahun 1978 direnovasi oleh Naib H. Abdul Ajid Kepala Kantor Urusan Agama Departemen Agama (DEPAG) sekarang Kementrian Agama (KEMENAG) Kecamatan Singaparna akibat gempa 6.5 Skala Richter.

Pada tahun 1984 di era H. Hafid Hidayat Masjid dipugar kemudian dibangun dan diperluas seperti sekarang ini, oleh tokoh-tokoh masyarakat Singaparna terdiri dari para pedagang dsb, yang diketuai oleh H. Endang Karsana, H. Dudung Abdul Rahman hingga kepengurusan H. Aban Subarna. Perencanaan pembangunannya dirancang oleh Ir. H. Ilman Noor, MSCE. Dosen Tekhnik Sipil Universitas Islam Indonesia UII Yogyakarta, dengan gaya arsitektur modern yang terkesen mewah, indah, anggun dan kuat pada waktu itu.

Masjid berukuran panjang dalam 45  m sampai ke luar 50 m. Sedangkan lebar 30 m sampai ke luar 33 m, 4 tihang beton penyangga dan penguat atap dan Kubah dengan ketinggian sampai pelapon 15 m pelapon  sampai kubah 5 m. Ketinggian kubah 7 m dan lingkaran kubah 33 m. 

Penyangga atap memakai Wide Flange (WF): baja profil struktural yang memiliki kekuatan tinggi dan digunakan dalam kontruksi, dipadukan dengan balek gardeng dan reng kayu borneo 10 cm x 10 cm dan alba ukuran 4 cm x 6 cm. Hal ini dilakukan untuk menahan beban genting beton pres, 1 genting beratnya 3,5 kg ukuran 42,5  cm x 33,5 cm atap genting beton pres Masjid Besar Singaparna sekitar 10.000 genting. 

Selama 9 tahun pembangunan masjid dilaksanakan dan dikerjakan. Alhamdulillah Dengan Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa, Masjid Besar Singaparna Diresmikan pada hari selasa tanggal 14 September 1993 oleh Bupati Daerah Tingkat II Tasikmalaya H. Adang Roosman, SH.

Renovasi Masjid ini sampai sekarang terus menerus berlanjut dilaksanakan, dengan maksud dan tujuan untuk memperindah dan memberi kenyamanan pada para jemaah dalam melaksanakan ibadah. 

Pada awal januari  tahun 2024 Kusennya diganti dengan Krawangan sekitar 227 m dan tihang luar penyangga betonan  berjumlah 17 tihang dilapisi dan diperindah dengan ukiran. Renovasi Krawang dan tihang beton ini merupakam infaq dan Shodaqoh dari H. Asep Ridwan Panyingkiran Singaparna.

Pada tanggal 28 April 2024 pukul 23:29. Terjadi gempa magnitudo 6, 2 di Barat Daya Garut yang mengakibat atap masjid sebelah timur sebagian gentingnya retak dan pecah, sehingga jatuh ke Plafon triplek dan ke dalam masjid. Jumlah genting yang diganti sebanyak 500 dan 10 triplek.

Kami Pengurus Dewan Masjid Besar Kecamatan Singaparna terus memantapkan niat dan langkah untuk senantiasa  berhidmat membangun masjid baik dari segi fisik maupun mental spiritual, sehingga mencapai cita-cita menjadikan masjid yang mewah, anggun, indah dan kuat, serta menjadi sentral berbagai kegiatan umat Islam.

Karenanya, kami mohon doa dan dukungannya, sehingga dapat mencapai apa yang menjadi cita-cita dan harapan semua. Semoga sehat, sejahetera, bahagia dan sukses selalu mengiringi jalan kehidupan kita. Senantiasa ada dalam Rahmat, Ridho dan Lindungan Allah Subhanahu Wataala. Aamiin...

Makna Filosofis Masjid

Masjid adalah rumah ibadah, simbol kesucian dan ketaatan kepada Allah serta sebagai sentral berbagai kegiatan umat Islam.

Pada umumnya bangunan masjid diatasnya terdapat kubah, melambangkan ajaran Islam luas, terbuka, mencintai dan damai. Kubah menjadi ciri khas bangunan masjid untuk mempermudah dan membantu orang mengetahui serta menemukan bangunan itu sebagai masjid.

Bentuk bangunan atap setengah lingkaran atau separuh bola berfungsi supaya kuat dan tahan lama, tahan panas teriknya matahari dan api, sehingga tidak mudah terbakar, tahan air dan guyuran hujan, sehingga tidak mudah retak dan bocor, tidak mudah ditembus badai, bencana alam dan sebagainya

Kubah bagian atas memberi simbol menuju ketinggian surga, terdapat lambang bulan sabit dan lafad Allah. Bulan melambangkan simbol berkaitan dengan kebesaran Allah, bintang mencerminkan rukun Islam yang lima, puncaknya lafad Allah. bermakna yang mencurahkan dan meliputi segala sesuatu, puncak utama menuju keharibaan Allah Subhanahu Wataala.

Orang-orang yang memperoleh kenikmatan dari Allah adalah mereka yang menjalankan kehidupan dengan aturan Islam dan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang sebenarnya.

Atap bebentuk tumpang atau susuhunan yang merupakan bagian dari ciri khas rumah tradisi Jawa Sunda. Susuhunan atapnya semakin keatas semakin kecil melambangkan tatakrama; hormat, sopan santun, loma atau akrab, rajin, suhud  atau sungguh sungguh. Genting yang terbuat dari pres betonan melambangkan persatuan dan kesatuan, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Karenanya, kita harus senantiasa memperat tali silaturahmi dan memperkuat persatuan dan kesatuan untuk mencapai cita-cita kita bersama.

Tihang empat penyangga kubah dan atap bangunan masjid, dimaknai sebagai empat pedoman  agama Islam, yaitu: Al-Qur'an, Hadis, Ijma' dan Qiyas. 

Ketinggian tihang 4 yang berada di tengah-tengah bangunan dalam masjid sampai ke puncak kubah 27 m serta tihang dalam bagian belakan masjid berjumlah 27 tihang dengan ketinggian tihang 5 meter, dan tihang luar berjumlah 17 tihang, melambangkan harus melaksanakan shalat sehari semalam 17 rakaat dengan berjamaah agar memperoleh pahala  27 derajat. Sebab ibadah priotas utama dan pertama adalah shalat. Sholat paling utama adalah sholat tepat pada waktunya dan berjamaah.

Sepajang ada kelapangan waktu dan kesiapan fisik, sholat adalah seutama-utama ibadah untuk dilakukan, karena ialah sarana kaum Muslimin untuk mi'raj menuju Allah.

Bundaran kubah lebar 33 m, luas masjid sampai ke luar pun 33 m ke samping 30 m dengan ketinggian 7 m, melambangkan setiap hari setiap minggu setiap bulan harus senantiasa dzikrullah: tasbih, tahmid dan takbir. "Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya". "Basahilah bibirmu dengan dzikrullah".

Ketika kita berkunjung ke Masjid Besar Singaparna pada bagian muka kita akan langsung melihat menara satu, melambangkan tauhid bahwa Allah itu Maha Esa. Memusatkan seluruh keyakinan hanya tertuju kepada Allah. Dan menegaskan hanya Allah satu-satunya Zat yang wajib disembah, hanya kepada-Nya kita menyembah dan pasrah, hanya kepada-Nya kita mengabdi dan memuji.

*Catatan:*

1. Perlu adanya penataan yang lebih baik, baik di dalam masjid maupun di halaman sekitar masjid. Supaya ramah lingkungan dan terlihat indah.

2. Perlu adanya pengecatan ulang dan tambahan kubah dengan konsep masjid gaya arsitektur modern yang terkesan mewah, anggun, indah dan kuat. Mengadopsi perpaduan arsitektur ciri khas bangunan sunda dan nuansa masjid Nabawi Madinah.

3. Perlu dibuat Master Plan yaitu rencana strategis yang menggambarkan langlah-langkah dan tahapan yang harus dilakukan untuk mewujudkan target, sasaran dan pembangunan Masjid.

Singaparna, 17 Oktober 2024 M. /14 Rabiul Akhir 1446 H. By: Oha Nugraha

Komentar

  1. Alhamdulillah. Semoga bermanfaat untuk menampah wawasan dan Ilmu pengetahuan.

    BalasHapus

Posting Komentar